Apakah Sustainable Fashion Mahal? - PARAPOHON

Apakah Sustainable Fashion Mahal?

4 bulan yang lalu

Ketika suatu barang memiliki harga murah, bukan berarti dibuat dengan biaya yang sedikit, tetapi ada orang lain yang “membayar harganya”. Sustainable Fashion TIDAK MAHAL. Terkadang harga yang ditawarkan tidak masuk akal, tanpa melihat proses dibelakangnya bahwa ada banyak yang menderita. Makhluk hidup dan lingkungan pastinya, mereka dieksploitasi untuk membuat pakaian kita. Biaya sebenarnya berbentuk pekerja dengan upah rendah, biaya produksi ditekan, tempat kerja yang tidak layak, kerusakan lingkungan, biaya pengolahan limbah dihemat sehingga limbah tidak diproses dengan baik. Semua dilakukan untuk mempermudah kita berpakaian. Satu juta (1jt) adalah upah minimum industri fashion di Bangladesh, ketika kebutuhan hidup mereka 5jt, mereka dibayar 20% dari kebutuhannya dan kita bisa menikmati harga murah dari sebuah pakaian.


Brand yang Sustainable dibuat berbeda, mereka tidak memaksakan harga agar murah dan bahkan diproduksi lebih sedikit, artinya mereka punya produk lebih sedikit sehingga biaya tetap menjadi terasa besar. Di luar sana masih banyak brand yang menjual dengan harga yang setara dengan brand normal dan produknya tahan lebih lama. Jadi secara harga masih sangat mungkin produk yang sustain/awet dijual dengan harga yang terjangkau. Memilih produk berkualitas yang tahan lama lebih baik daripada membeli sesuatu yang baru tapi umurnya pendek.


Menggunakan lebih sedikit juga membuat perubahan, kita bisa lebih menikmati, menghargai dan tentunya juga lebih hemat. Sebelum membeli sesuatu, tanyakan, Apakah kita butuh barang tersebut? Apakah barang itu bisa membuat kita happy? Atau malah akan jadi menumpuk dan membuat stress? Kita tidak bisa memperbaiki dunia dengan membeli lebih banyak. Setiap barang yang kita konsumsi, ada sumber daya yang diperlukan. 10.000 liter air diperlukan untuk membuat 1 jeans dan t-shirt. Apakah semua harus baru? Atau bisa beli bekas? Jika anda membeli produk baru, cari yang berkualitas dan timeless, sehingga bisa tahan lama, dan punya second life setelah anda tidak menggunakannya. Beli lebih sedikit tapi spend sedikit lebih banyak. Quality Over Quantity.

Produk yang sustainable dan berkualitas biasanya lebih awet, dan membuat harga per pemakaian jadi lebih rendah. Sebagai contoh, kemeja linen dengan harga 500rb dibandingkan dengan kemeja katun harga 100rb. Linen bisa bertahan hingga 20-30 tahun .Jika 1 bulan dipakai 4 kali, maka 1 tahun dipakai 48 kali, selama 20 tahun dipakai 960 kali, jadi harga per pemakaiannya Rp. 520 sedangkan kemaja katun biasa bisa bertahan 2 tahun, jika sama” dipakai 48 kali setahun, maka akan dipakai 96 kali maka harga per pemakaiannya Rp. 1041, hampir dua kali lebih mahal daripada kemeja linen. Jadi mana yang lebih murah,kemeja Linen 500.000 atau kemeja Katun 100.000?

Kita sudah diprogram untuk terus membeli, yang dulunya 4 koleksi produk per tahun, sekarang tiap minggu ada produk baru, produk dengan harga murah dan tidak tahan lama, yang memang dibuat dan dipromosikan untuk terus dibeli. Fashion Designer Vivienne Westwood mengatakan “Buy Less, Choose Well and Make it last”. Beli lebih sedikit, memilih lebih baik, dan pakai lebih lama.


Jadi ketika kita beli lebih mahal dan lebih tahan lama, kita lebih hemat. Sustainable is not Expensive, it’s actually cheaper in the long run, and yes, normal brand is too cheap, there is someone pay the price. Untuk mengetahui mengapa beberapa produk bisa sangat murah dan apa biaya yang sebenarnya “dibayar” dan sumber daya yang dikorbankan, tonton film “True Cost”. Setelah menonton True Cost mungkin kita bisa lebih sadar dalam melihat harga produk, kita tidak lagi membeli sesuatu yang paling murah, tapi kita membeli produk yang lebih baik. Seperti kata Jaya Setiabudi, “Bukan Ada Harga, Ada Rupa, tapi Ada Harga, Ada Berkah”.